HIKMAH DAN KEUTAMAAN BERPRASANGKA BAIK KEPADA ALLAH, S.W.T DALAM MENGHADAPI MUSIBAH DALAM KELUARGA
- Diposting Oleh Genesis_web
- Rabu, 22 Februari 2023
- Dilihat 233 Kali
HIKMAH DAN KEUTAMAAN BERPRASANGKA BAIK KEPADA ALLAH, S.W.T DALAM MENGHADAPI MUSIBAH DALAM KELUARGA
Oleh : Muhammad Hadiatur Rahman
Makna Keluarga dalam Islam
Membangun sebuah keluarga merupakan fitrah manusia yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tujuan dibangunnya keluarga salah satunya agar manusia dapat membentengi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat serta menjaga keberlangsungan keturunan umat manusia dalam menjaga silsilahnya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah, SWT.,
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74).
Keberlangsungan keturunan bertujuan untuk menjaga silsilah keluarga, hadirnya seorang anak tidak lain sebagai pelengkap kebahagian dari hasil pernikahan, posisi anak dalam kontek Islam adalah sebagai amanah yang diberikan oleh Allah, SWT. dan posisi orang berkewajiban untuk mendidik dan menafkahi agar nantinya anak tersebut dapat berguna dan bermanfaat bagi agama. Hal ini sesuai firman Allah, SWT.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al-Kahfi: 46).
Kehidupan berkeluarga semata-mata bertujuan agar manusia dapat mendapatkan ketentraman dan ketenangan dalam hidup. ada tiga keutamaan dalam membangun keluarga yang yang ideal dalam pandangan Islam diantaranya Sakinah yaitu suasana damai, Mawaddah yaitu rasa saling tanggung jawab dan Warahmah yaitu diberikannya keturunan yang sehat dan saling menyayangi antara Suami, Istri dan anak.Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, SWT. dalam Surat Ar-Rum: 21).
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang …” (Q.S. Ar-Rûm: 21).
Manusia akan merasa tentram dan damai apabila dapat membangun keluarga yang ideal menurut Islam sesuai dengan apa yang telah janjikan oleh Allah, SWT. Namun disisi lain manusia juga tidak akan lepas dengan namanya musibah. Musibah sendiri adalah ujian atau teguran yang diberikan oleh Allah, SWT kepada setiap manusia baik dapat berupa sakit, bencana alam, kehilangan harta benda, ditinggal orang yang dicintai, dsb. Hal ini disinggung oleh Allah SWT dalam Firmannya.
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS. Al-Baqarah, Ayat 155-156) .
Ayat diatas mengajarkan bahwa setiap manusia pasti akan diuji dan ditegur oleh Allah SWT untuk itu manusia diperintahkan untuk bersabar apabila ditimpa musibah. Karena pada hakikatnya semua yang ada didunia adalah milik Allah SWT.
Musibah dalam Keluarga
Dalam tulisan ini penulis memaknai musibah secara khusus dalam kontek musibah sebagai cobaan/teguran Allah SWT dalam kehidupan berkeluarga. Hal ini dirasa sangat penting mengingat akhir-akhir ini banyak keluarga yang berantakan hubungan baik antara suami, istri dan anak dan tidak jarang berakhir dengan perceraian. Berakhirnya sebuah keluarga pada umumnya tidak lain karena kurangnya rasa sabar dan ikhlas serta kurangnya ilmu agama dalam menghadapi setiap cobaan dan rintangan yang diberikan oleh Allah SWT. Berikut adalah cobaan yang sering dialami dalam menjalani kehidupan dalam berkeluarga.
Istri dan Anak
Istri dan dan anak selain sebagai perhiasan dalam berumah tangga dapat juga diartikan sebagai cobaan apabila suami selaku kepala keluarga tidak dapat membimbing dan membina istri dan anaknya. Allah SWT. Berfirman:
يَا أَيّÙهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا Ø¥Ùنَّ Ù…Ùنْ أَزْوَاجÙÙƒÙمْ وَأَوْلَادÙÙƒÙمْ عَدÙوًّا Ù„ÙŽÙƒÙمْ ÙَاØْذَرÙوهÙمْ Ûš ÙˆÙŽØ¥Ùنْ تَعْÙÙوا وَتَصْÙÙŽØÙوا وَتَغْÙÙرÙوا ÙÙŽØ¥Ùنَّ اللَّهَ غَÙÙورٌ رَØÙيمٌ(14) أَمْوَالÙÙƒÙمْ وَأَوْلَادÙÙƒÙمْ ÙÙتْنَةٌ Ûš وَاللَّه٠عÙنْدَه٠أَجْرٌ عَظÙيمٌ (15)
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka). Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. At-Taghâbun:14-15).